Kamis, 04 Februari 2010

Harapan

"Barangkali, Masih Ada Harapan," dengan sisa sisa tenaganya sore itu, lelaki itu mengayuh becaknya kembali. seharian ia tak mendapat penumpang. padahal, pukul delapan malam nanti, ketika becak yg di sewanya harus kembali masuk 'garasi', iaia harus membayar 25rb rupiah kepada sang juragan becak. Sang juragan sering kali tak mau peduli penyewa becaknya dapat penumpang atau tidak, ia hanya ingin tau satu hal : biaya sewanya harus di bayarkan, titik.

Tapi sering kali nasib tidak seperti tanda titik yang pasti. ia kadang seperti sebuah kalimat yang menggantung tak pasti.

Bagi lelaki pengayuh becak itu, hari2 yg ia lalui adalah sekumpulan kalimat yg mengagantung. Kalimat-kalimat yg seolah belum selesai, tetapi entah bgm ia harus di selesaikan. Sebuah kalimat yg seolah tak memiliki tanda titik. Tak terselesaikan.

biaya sewanya harus di bayarkan, titik. dan, biasanya lelaki itu hanya bisa diam setiap kali mendengar kata2 juragannya itu. ingin sekali ia menjawab, "Tapi sy tidak dapat penumpang, sy tidak punya uang, titik!. Tetapi ia tahu, "titik" yg bahkan tak bisa menghentikan apapun, selain menghamburkan amarah juragannya sehingga lututnya jd bergetar.

"Aku Ingin Menemukan Kepastian!" gumamnya sambil menambah laju becak.

Sore itu, ia membatalkan sebuah keputusan yg hampir saja pecah di ubun2 kepalanya, ia sekali lagi ingin mencoba memberi makna bagi "titik" yg selama ini ia cari setiap hari. ia melacak kepastianx sendiri, ia mencari "titik" yg seharusnya mengantarkanya pada nasib selanjutnya.

Sambil bersiul mengayuh becak yg disewanya, ia menghibur diri dengan sebuah kalimat yg di ciptakan dalam imajinasinya sendiri, hari ini aku ingin punya uang, titik!. Maka setengah tersenyum, disisa sisa tenaganya sore itu, sesaat setelah memutuskan untuk kembali memutar becak, ia bergumam, "Barangkali, masih ada harapan".

Di rumahnya yg kecil dan sering kali bocor setiap hujan turun, istrinya tentu saja menunggu dengan debar di muka pintu. Anak anak sudah merengek minta makan sejak tadi siang. "sabar, ya, nak..." Hanya itu yg bisa ia katakan pada anak anaknya. Tapi, Anak anaknya tentu tahu bahwa kata "sabar" adalah sebuah tanda bahaya bagi sepiring nasi yg tak pasti. sebuah kalimat yg menggantung.

"Pokoknya, sekarang. Titik!." Teriak anaknya.
Ingin sekali ia menjawab kepada anaknya, "Pokoknya sabar, ya Nak. Titik." Tetapi seperti "titik" yg dimiliki suaminya, ia tahu bahwa "titik" nya, tak memiliki kekuatan apa apa selain sebuah harapan yg di gantung, hanya di gantung. Titiknya adalah titik yg menyelesaikan persoalan.

Malam itu, sekira pukul sepuluh, lelaki itu pulang kerumahnya yg kecil dan sering kali bocor setiap kali hujan turun. "Bagaimana pak?" Sang istri bertanya penuh harap.

"Barangkali besok masih ada harapan," katanya setengah tersenyum.

Harapan??? harapan ternyata sebuah candu yg tak pernah tuntas. Seperti t4 tujuan yg selalu ada di stasiun berikutnya. Barangkali, Masih Ada Harapan. Barangkali? ya, "Barangkali" harapan seperti kata2 yg tak pernah memberi kepastian semacam itu. Tapi, di stasiun, semisterius apapun ia berada, harapan tetaplah sebuah destinasi yg nyata. Ia ada, dan siapapun yg menempuh suatu jalan ke arahnya, suatu saat akan sampai kepadanya.

"Besok? Kemarin bapak bilang hal yg sama, Barangkali besok masih ada harapan. Besok pak? ibu capek!" kata istrinya setengah memaki nasibnya sendiri. Lalu, istrinya terdiam sendiri. Diam2, air mata leleh dan mengalir di tebing pipinya.

Lelaki itu diam. ada getar ragu yg menyelinap di hatinya. Tapi kemudian tersenyum, "Bukankah hanya harapan yg membuat orang2 seperti kita masih punya hari esok, bu?" tanyanya tanpa menuntut jawab.

Sesaat, istrinya terdiam. "Besok yg semangat ya pak" lanjutnya sambil tersenyum. Lalu, memeluk suaminya.

"ya bu!, Pokoknya, besok aku akan dapat uang banyak. Kita akan jalan2. Titik!" jawabnya sambil mengirup bau rambut istrinya.

Harapan? Ya, harapan. Bahkan, ketika kau terdesakdan tak punya apapun, harapan adalah senjata rahasia yg di anugrahkan tuhan pada semua manusia. Bukankah, saat Muhammad dan para pengikutnya semakin terdesak di makkah, harapan adalah tenaga yg mempertahankan iamn yg mereka miliki, dan menuntut langkah mereka untuk berhujrah ke Madinah? lalu, terciptalah sebuah perdaban baru, terciptalah "harapan-harapan" berikutnya. Harapan? Ya, harapan. Bahkan Mungkin hanya itu yg menahan jutaan orang miskin di indonesia untuk mengurungkan niatnya membeli 1 jerigen minyak tanah atau membeli seutas tali untuk menghabisi hidupnya sendiri.

Ya, Harapan.
Bila hari ini kau kecewa, sedih, atau merasa tak berarti apa2, tenanglah, tarik napasmu, barangkali, besok masih ada harapan. bila tahun ini, mimpi2mu, cita2mu, keinginanmu belum tercapai, bila kau merasa masih tak pasti, tenanglah, barangkali besok masih ada harapan. Bukankah hanya harapan yg menbuat kita bertahan? Tenanglah. Tarik Napasmu, besok masih ada harapan.

Diluar sana, banyak yg lebih kecewa dan menderita darimu, tetapi mereka masih punya HARAPAN.






Di Kutip Dari Buku : Curhat Setan
Karya Fahd Djibran.


Semoga Postingan Kali Ini Dapat Memberi Makna Yg lebih Baik Untuk Sebuah Perjalanan Kita Untuk Sebuah Kehidupan.