Kamis, 28 Januari 2010

Sebuah Cerpen Atau Postingan Dari Seorang Sahabat Dengan Judul MATA LELAH.


Berjalan gontai karena lapar dan haus, anak 4 tahunan itu kembali meneruskan pekerjaannya; meminta-minta.

Matanya sayu, setiap kedipannya menghabiskan setidaknya 2 detik untuk membuka kembali. Lemah sekali. tidak terlihat lagi sinar keceriaan dimata itu, hanya kotoran dan debu jalanan. Tatapannya kosong, seakan tidak pernah melihat apapun yang menyenangkan hatinya. Matanya memandang jalang setiap yang melintas didepannya, mata yang lemah namun selalu waspada. Disekeliling matanya hitam, kurang tidur. Tidak ingin lagi dia tertidur, karena dalam tidur pun dia merasa dikhianati. Karena setiap kali dia terbangun setelah bermimpi, dia tahu kalau dia dibodohi. Mimpi adalah pembohong terbesar dalam hidupnya. Mimpi terindahnya adalah tidur diatas bantal empuk, namun ketika terjaga yang dia dapati adalah trotoar keras yang dekil.

Mata kecoklatan yang indah itu telah kehilangan cahayanya. Pandangannya mulai kabur, kekurangan vitamin sepertinya. Jika malam menjelang dia harus menajamkan indera pendengaran dan perabanya untuk berjalan. Malam terlihat lebih gelap dari biasanya ketika kau kelaparan. Semua terlihat buram baginya, semakin hari semakin parah. Dihitungnya sudah 3 kali dia terserempet mobil ketika hendak menyeberang, tidak fatal namun cukup menyakitkan untuk anak sekecil itu. Menangis dia? Tidak. Anak sekecil itu mengetahui apa posisinya di dunia. Dia merasa sebagai seonggok kerikil yang tidak dihiraukan orang, menangis pun tidak berguna. Tidak akan ada orang yang iba padanya, apalagi datang membawakannya makanan. Menangis hanya akan membuatnya semakin lapar. Dia mengobati lukanya seperti kucing, dijilati sampai terasa nyaman. Dia pernah meniru kambing yang memakan rerumputan, atau ayam yang memakan tanah, tetapi itu hanya membuat perutnya sakit sekali. Dia sekarang seperti ikan, hanya meminum air jika laparnya tak tertahankan. Tapi bukankah air keran mengandung banyak bakteri?? tahu apa anak kecil yang tak ber-orang tua soal bakteri??

Badannya terlalu lemah, dia rebah ditempatnya berdiri. Bertelekan lengan kanannya, matanya menyapu keadaan sekitarnya. Ramai orang malam itu, tidak satupun yang dia kenal. Mengapa didunia ini begitu banyak manusia? Banyak manusia berarti banyak makanan? Mengapa tidak ada satupun untuknya. Lelaki diujung jalan itu seperti ayahnya, tidak mungkin, ayahnya telah mati seminggu yang lalu. Rindu sekali dia dengan ayahnya. Lalu perempuan yang menunggu bis itu seperti ibunya, tidak mungkin, ibunya meninggalkannya di jalan ketika dia masih kecil. Dan paras anak kecil yang sedang menjilat es krim itu persis seperti dirinya, tidak mungkin, dia ada disini dan sama sekali belum pernah lidahnya merasakan manis dan dinginnya es krim.

Ini tidak adil, pikirnya. Mengapa mereka berpakaian bagus, sementara baju dan rok yang dia pakai sudah berubah warna. Celana dalamnya pun tidak pernah diganti. Malahan hanya ini satu-satunya pakaiannya. Dia sering bertemu anak yang sama dengan pakaian yang berbeda-beda. Apakah itu benar anak yang sama yang dilihatnya sebelumnya, mengapa pakaiannya banyak sekali? ataukah memang manusia memang seharusnya memiliki banyak pakaian, tidak hanya satu sehingga mereka dapat menggantinya sesuka mereka. Kenapa dia hanya punya satu pakaian? Anak kecil itu tidak menemukan jawabannya, dia baru 4 tahun.

Dan alas kaki itu. Apakah mereka punya lebih dari satu? dia melihat berwarna-warni alas kaki. Bahkan ada yang bergambar tokoh kartun, dia senang sekali dengan gambar itu. Alas kakinya sendiri adalah sandal jepit yang telah tipis dan hampir putus. Karena tipisnya, kakinya tertusuk paku kemarin. Dia menjilati kakinya, tapi sepertinya tidak berhasil karena luka dikakinya mulai membiru.

Mengapa mereka yang dia lihat tidak sakit perut karena lapar seperti dirinya?? Apakah mereka selalu makan banyak, atau hanya dia yang bisa merasakan kelaparan?? anak kecil ini mulai berpikir bahwa dia adalah satu-satunya manusia yang mempunyai perut yang bisa lapar, mempunyai mulut yang selalu penuh air liur ketika melihat makanan dan mempunyai kerongkongan yang selalu kering karena haus. Atau mereka punya banyak uang sehingga bisa membeli makanan? Kalau mereka punya banyak uang, kenapa tidak ada yang memberinya sedikitpun? mungkin uang mereka banyak tapi mereka sangat sayang pada uangnya, sehingga tidak akan memberikan sepeserpun padanya. Dia tidak menyalahkan mereka, yang dia tahu hanya makanan, uang tidak bisa dimakan. Anak kecil tahu apa soal alat tukar yang sah.

Dia mengompol, terlalu lemah untuk membuka celananya. Selangkangannya hangat karena air kencingnya sendiri. Hangat, mengapa orang-orang disekitarnya sepertinya merasakan hangat? tidak pernahkah mereka kedinginan sepertinya dirinya sekarang? menggigil sampai gigi gemeretuk beradu seperti dirinya sekarang? Merinding setiap kali angin menyentuh kulitnya? Mungkin kulit mereka tebal tidak seperti kulitnya yang hitam penuh koreng. Tapi aneh, dingin malam ini terasa sangat melemahkan dirinya, membuatnya semakin menderita.

Matanya bergerak liar namun tubuhnya tergolek lemas dipinggir jalan.

Dia melihat seberkas sinar putih. Perlahan-lahan sinar itu semakin mendekati dirinya dan semakin lama semakin membesar. Orang-orang yang dilihatnya mulai membias oleh sinar yang menyilaukan itu. Nafasnya tercekat, kerongkongannya kering luar biasa. Haus! Dia haus sekali, haus luar biasa. Jantungnya berdegup kencang sekali, dia bahkan dapat mendengarnya. Seperti tabuhan genderang perang, bertalu-talu tanpa henti. Untuk pertama kalinya, anak kecil itu merasakan takut. Butiran air mata pertamanya jatuh diatas pipinya dan melintas dibibirnya. Asin, rasanya asin, aneh sekali. Sinar putih itu semakin membesar, dia merasakan tubuhnya semakin ringan. Sangat ringan sampai dia merasa dapat meloncat tinggi sekali lalu kembali kebumi tanpa terluka. Ringan, namun tubuhnya tidak dapat digerakkan. Sekuat apapun usahanya, tubuhnya kaku menempel dengan aspal jalan. Bahkan matanyapun tidak dapat dia gerakkan, pupilnya hanya terpaku pada satu titik. Semuanya berjalan begitu lambat sekarang, sinar putih itu semakin mendominasi ruang disekelilingnya. Dingin yang semakin menusuknya dirasakan sudah keterlaluan, dia tidak dapat bernafas. Udara sepertinya bermusuhan dengannya. Degup jantungnya perlahan melambat, terus melambat, terlalu lambat. Sinar putih itu menelan dirinya dan sekelilingnya, sekarang semuanya putih sejauh mata memandang.

Dia tersenyum dalam tangisnya.

Mata kecoklatan indah itu terpejam dan tidak pernah membuka lagi.

Dia pergi ketempat dimana tidak ada kata “lapar” dan “haus”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar